GAPKI Kalimantan Barat dan UNU Kalbar Tandatangani MoU pada Rakercab Tahun 2026

Pontianak, 25 Juni 2026 – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Cabang Kalimantan Barat melaksanakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Seremonial Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara GAPKI Cabang Kalimantan Barat dan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar). Kegiatan tersebut berlangsung di Sky Ballroom Hotel Mercure Ayani Pontianak dengan mengusung tema “Memperkuat Sinergi dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam Rangka Mendukung Ketahanan Pangan dan Energi Nasional.”

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Ignasius IK, S.H., M.Si., Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Barat Aris Supratman, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat Prof. Dr. Sukino, M.Ag., serta para pelaku industri perkebunan kelapa sawit dan tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua GAPKI Kalimantan Barat, Aris Supratman, menegaskan bahwa industri kelapa sawit merupakan salah satu penggerak utama perekonomian daerah yang memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan dan pembangunan di Kalimantan Barat. Ia juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi yang kuat antara sektor perkebunan, perguruan tinggi, dan pemerintah dalam menghadapi berbagai tantangan industri.
Selain itu, Aris Supratman menyoroti dampak kebijakan ekspor satu pintu yang dinilai turut berpengaruh terhadap penurunan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani. Menurutnya, sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.
Sementara itu, Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyampaikan bahwa industri kelapa sawit Indonesia merupakan industri strategis yang memberikan kontribusi devisa sangat besar bagi negara. Ia mengungkapkan bahwa sektor sawit telah menunjukkan ketangguhannya, termasuk saat menghadapi pandemi COVID-19, di mana industri ini mampu bertahan tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif.
“Industri kita adalah industri yang luar biasa. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional sangat besar. Namun demikian, meskipun harga komoditas di pasar internasional meningkat, biaya produksi yang harus ditanggung pelaku usaha juga mengalami kenaikan yang signifikan,” ujarnya.
Eddy Martono juga menjelaskan bahwa penurunan harga TBS saat ini lebih dipengaruhi oleh dinamika pasar global. Selain itu, ia turut menyinggung berbagai tantangan dan dampak implementasi kebijakan P50 terhadap industri kelapa sawit nasional yang perlu dipahami secara komprehensif oleh seluruh pihak.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat, Drs. Ignasius IK, S.H., M.Si., menyampaikan bahwa sektor perkebunan kelapa sawit memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi, serta pembangunan ekonomi daerah.
Menurutnya, pemerintah daerah terus mendorong penguatan sinergi antara dunia usaha, perguruan tinggi, dan pemerintah agar potensi perkebunan kelapa sawit dapat memberikan manfaat yang semakin besar bagi masyarakat Kalimantan Barat dan pembangunan nasional.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara GAPKI Cabang Kalimantan Barat dan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat sebagai bentuk komitmen bersama dalam pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Rektor UNU Kalbar, Prof. Dr. Sukino, M.Ag., menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, momentum ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat hubungan antara dunia akademik dan industri.
“Ini merupakan momentum yang luar biasa bagi UNU Kalbar. Kami mendapatkan kesempatan untuk menjalin kerja sama dengan GAPKI Kalimantan Barat yang selama ini telah menunjukkan komitmen besar dalam mendukung pengembangan pendidikan, khususnya di bidang pertanian,” ungkapnya.

Prof. Sukino menjelaskan bahwa kerja sama ini diharapkan mampu mendukung keberlanjutan pengembangan Fakultas Pertanian Program Studi Agroteknologi yang saat ini telah mendapatkan dukungan dari pemerintah maupun GAPKI. Selain itu, berkat dukungan GAPKI, UNU Kalbar juga dipercaya untuk mengelola program Beasiswa BPDP SDM Sawit sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor perkebunan kelapa sawit.
Tidak hanya itu, GAPKI Kalimantan Barat juga telah memberikan bantuan material sirtu yang dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan infrastruktur kampus UNU Kalbar. Ke depan, kedua belah pihak berharap kerja sama yang terjalin dapat semakin berkembang melalui berbagai program kolaboratif di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kemitraan ini, para mahasiswa juga diharapkan memperoleh manfaat yang lebih besar melalui keterlibatan praktisi industri sebagai narasumber dan mitra pembelajaran. Pengalaman langsung dari para pelaku industri di lapangan akan menjadi bekal penting dalam meningkatkan kompetensi dan kesiapan lulusan menghadapi dunia kerja.
Penandatanganan MoU ini menjadi simbol komitmen bersama antara GAPKI Kalimantan Barat dan UNU Kalbar dalam membangun ekosistem pendidikan dan industri yang saling mendukung demi terwujudnya sumber daya manusia unggul serta industri kelapa sawit yang berkelanjutan di Kalimantan Barat.
